BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kata
prasasti berasal dari bahasa Sanskerta, dengan arti sebenarnya adalah pujian.
Namun kemudian dianggap sebagai piagam, maklumat, surat keputusan,
Undang-undang atau tulisan.
Prasasti adalah piagam
atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Penemuan
prasasti pada sejumlah situs arkeologi , menandai akhir dari zaman prasejarah,
yakni babakan dalam sejarah Kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal
tulisan menuju zaman sejarah dimana masyarakatnya sudah mengenal tulisan. Pada
umumnya dapat dikatakan, bahwa bangsa kita memasuki zaman sejarahnya sejak abad
ke-5 Masehi, oleh karena itu
kira-kira
dari zaman itu sampailah kepada kita keterangan-keterangn tertulis yang
pertama, berupa prasasti-prasasti (piagam-piagam) di atas batu yang ditemukan
di Kutai berasal dari raja Mulawarman dan di Jawa Barat berasal dari raja
Purnawarman. Tak dapat disangkal bahwa mula-mula adanya tulisan di negeri kita,
sebagaian
ternyata dari prasasti-prasasti tersebut berasal dari India.
Dalam pengertian modern
prasasti sering dikaitkan dengan batu nisan atau di gedung terutama pada saat
peletakkan batu pertama atau peresmian suatu proyek pembangunan.
Prasasti
Yupa merupakan prasasti batu yang
ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa sanskerta, prasati ini ditemukan di
Kutai, Kalimantan Timur dan berisi mengenai hubungan genealogi pada masa
pemerintahan
raja Mulawarman. Kali ini kelompok kami akan membahas tentang makalah yang
berjudul “Prasasti Yupa Sebagai Sumber
Sejarah Kerajaan Kutai pada Masa Raja Mulawarman” untuk mengetahui isi dan fungsi prasasti Yupa yang terdapat pada kerajaan Kutai.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian prasasti dan prasasti Yupa?
2. Apa
isi prasasti Yupa?
3. Apa
fungsi prasasti Yupa?
C.
Tujuan
Makalah
1.
Untuk mengetahui pengertian
prasasti dan prasasti Yupa.
2. Untuk
mengetahui isi prasasti Yupa.
3. Untuk
mengetahui fungsi prasasti Yupa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Prasasti
Prasasti menurut
ensiklopedia adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan
tahan lama. Sedangkan menurut etimologi prasasti adalah pujian. Sebagian besar prasasti diketahui
memuat keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi sima atau
daerah perdikan. Sima adalah tanah yang diberikan oleh raja
atau penguasa kepada masyarakat yang dianggap berjasa, ada juga prasasti yang
berisi tentang tentang perkara perdata (disebut prasasti jayapatra atau jayasong),
sebagai tanda kemenangan (jayacikna), tentang utang-piutang (suddhapatra),
dan tentang kutukan atau sumpah. Prasasti
tentang kutukan atau sumpah hampir semuanya ditulis pada masa kerajaan
Sriwijaya. Serta adapula prasasti yang berisi tentang genealogi raja atau asal
usul suatu tokoh.
Prasasti dapat ditemukan dalam
bentuk angka tahun maupun tulisan singkat. Angka tahun dapat ditulis dengan
angka maupun candrasengkala, baik
kata-kata maupun tulisan. Tulisan singkat dapat ditemukan pada dinding candi, pada
ambang pintu bagian atas dan pada batu-batu candi.
Bahan yang digunakan untuk
menuliskan prasasti biasanya berupa batu atau
lempengan logam, daun, dan kertas. Selain andesit, batu yang
digunakan adalah batu kapur, pualam, dan basalt.
Dalam arkeologi, prasasti batu disebut upala
prasasti. Prasasti logam yang umumnya terbuat dari tembaga dan perunggu, biasa disebut tamra prasasti. Hanya
sedikit sekali prasasti yang berbahan lembaran perak dan emas. Adapula
yang disebut ripta prasasti, yakni prasasti yang ditulis di atas lontar atau
daun tal. Beberapa prasasti terbuat tanah liat atau tablet yang diisi dengan
mantra-mantra agama Buddha.
B.
Prasasti Yupa
Sampai kini
prasasti tertua di Indonesia teridentifikasi berasal dari abad ke-5 Masehi,
yaitu prasasti Yupa dari kerajaan Kutai,
Kalimantan Timur. Pada tahun 1879 ditemukan beberapa buah prasasti yang
dipahatkan pada tiang batu. Tiang batu itu disebut Yupa, yaitu nama
yang disebutkan pada prasasti-prasastinya sendiri. Sampai saat ini telah
ditemukan tujuh buah Yupa, dan masih
ada kemungkinan Yupa yang lain
belum ditemukan.
Prasasti-prasasti
yang ditemukan di Kalimantan Timur itu mula-mula ditemukan hanya empat buah,
kemudian tiga buah yang lainnya ditemukan. Menurut Kern, huruf yang digunakan
adalah huruf palawa dengan bahasa sansekerta. Semuanya dikelurkan atas titah
(perintah) seorang penguasa daerah itu pada masa tersebut, yang bernama Mulawarman,
yang dapat dipastikan bahwa Ia adalah
seorang Indonesia asli, karena kakeknya masih mempergunkan nama Indonesia asli,
Kundunga.
Prasasti yang menyebutkan silsilah
Mulawarman, raja terbesar di daerah Kutai kuno itu, berbunyi sebagai berikut:
Crimatah cri-narendrasya,
Kundungasya
mahatmanah,
Putro cvavarmmo vikhyatah,
Vanicakartta
yathancuman,
Tasya putra mahatmanah,
Trayas traya
ivanayah,
Tesan trayanam pravarah,
Tapo-bala-damanvitah,
Cri mulavarmma rajendro,
Yastva
bahusuvar nnakam,
Tasya yajnasya
yupo yam,
Dvijendrais
samprakalpitah
Yang artinya:
Sang
Maharaja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, sang
Aswawarman namanya, yang berarti sang angsuman (Dewa Matahari) menumbuhkan
keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api
yang suci tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah sang Mulawarman,
raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan
kenduri emas amat banyak. Untuk peringatan kenduri itulah tugu batu ini
didirikan oleh para Brahmana.
Prasasti
lain yang dikeluarkan oleh Mulawarman berisi
Crimad-viraja-kirtteh
Rajnah cri-mulavarmmanah punyam
Crnantu vipramukhyah
Ye canye sadhavah purusah
Bahudana-jivadanam
Sakalpavrksam sabhumidanan ca
Tesam punyagananam
Yupo yam stahipito vipraih
Yang
artinya:
Dengarkanlah
oleh kamu sekalian, Brahmana yang terkemuka dan sekalian orang baik
lain-lainnya, tentang kebaikan budi sang Mulawarman, raja besar yang sangat
mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah banyak sekali, seolah-olah
sedekah kehidupan atas mata-mata pohin kalpa (yang member segala keinginan),
dengan sedekah tanah yang dihadiahkan. Berhubung dengan semua kebaikan itulah
tugu ini diberikan oleh para Brahmana sebagai peringatan.
Prasati yang
ketiga berisi:
Sri-mulavarmmana rajna
Yad dattan tila-parvvatam
Sa-dipamalaya sarddham
Yupo yam likhitas tayoh
Yang artinya
adalah tugu ini ditulis untuk peringatan dua perkara yang telah disedekahkan
oleh Sang Raja Mulawarman, yakni segunung minyak (kental), dengan lampu serta
malai bunga.
Masih ada
lagi prasastinya yang lain, berbunyi:
Srimato nrpamukhyasya
Rajnah sri-mulavarmmanah
Danam punyatame ksetre
Yad dattam vaprakesvare
Dvijatibhyo gnikalpebhyah
Vinsatir nggosahasrikam
Tasya punyasya yupo yam
Krto viprair ihagataih
Yang berarti
Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah sapi
20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang seperi api, (bertempat) di tanah
yang suci (bernama) Waprakeswara. Untuk peringatan akan kebaikan budi sang raja
itu, tugu ini telah dibuat oleh para Brahmana yang datang di tempat ini.
Prasasti
yang lainnya yang ditemukan belakangan, berbunyi sebagai berikut:
Sri-mulavarmma rajendra(h) sama vijitya partthi (van)
Karadam nrpatimms cakre yatha raja yudhisthirah
Catvarimsat sahasrani sa dadau vapprakesvare
Ba….. trimsat sahasrani punar ddadau
Malam sa punar jivadanam pritagvidham
Akasadipam dharmmatma partthivendra (h) svake pure
… … … mahatmana
Yupo yam sth (apito) viprair nnana desad iha (gataih)
Artinya:
Raja
Mulawarman yang tersohor telah mengalahkan raja-raja di medan perang dan
menjadikan mereka bawahannya seperti yang dilakukan oleh raja Yudhisthira. Di
waprakeswara raja Mulawarman menghadiahkan (sesuatu) 40 ribu, lalu 30 ribu
lagi. Raja yang saleh tersebut juga memberikan jivadana dan cahaya terang di
kotanya. Yupa ini didirikan oleh para bramana yang datang ke sini dari pelbagai
tempat.
Dari
prasasti-prasastinya yang sudah ditemukan sampai saat ini, dapat diketahui nama
beberapa orang tokoh, serta bagaimana kira-kira kehidupan keagamaan pada waktu
itu, bagaimana kehidupan dan keadaan masyarakat pada umumnya.
Bahan yang
sampai kepada kita cukup untuk mengungkapkan keadaan zaman tersebut secara
lengkap dan menyeluruh, sehingga pengetahuan mengenai zaman tersebut, untuk
sementara terbatas pada sumber yang ada.
C.
Fungsi Prasasti Yupa
Seperti yang telah kita ketahui prasasti Yupa dibuat sebagai:
1.
Menggambarkan
silsilah Raja Mulawarman.
2.
Mengenang
kebaikan Raja Mulawarman.
3.
Ucapan
terimakasih kepada para Brahmana.
Dapat kami simpulkan dari prasasti Yupa, kita dapat menggambarkan kehidupan
sosial masyarakat Kutai dengan melihat ketaatan/pengabdian mereka pada raja
Mulawarman, kita dapat melihat keagamaan masyarakat kutai yang menyembah Dewa
Siwa yang artinya mereka menganut agama Budha, kita dapat melihat kehidupan
ekonomi mereka melalui persembahan Sapi yang dipersembahkan kepada Brahmana,
mungkin masyarakat kutai berternak dan yang tidak kalah penting prasasti dibuat
sebagai sumber sejarah kerajaan Kutai.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
penjelasan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa prasati Yupa merupakan temuan arkeologi yang ditemukan di Kerajaan Kutai,
Kalimantan Timur yang dipahat pada tiang batu dengan menggunakan huruf pallawa
dan bahasa sanskerta. Dengan adanya prasasti ini sedikit demi sedikit keberadaan Kerajaan
Kutai daan keadaan masyarakat pada umumnya.
Prasasti
yang ditemukan sebanyak tujuh buah Yupa,
yang semuanya menerangkan bagaimana kepemimpinan raja Mulawarman. Prasasti yang
pertama menerangkan silsilah Mulawarman adalah raja terbesar di daerah Kutai
kuno, prasati yang selanjutnya menerangkan tentang kebaikan budi Sang
Mulawarman, raja besar yang sanat mulia, prasasti yang ketiga adalah sedekah
dari sang Mulawarman yang berupa segunung minyak dengan lampu serta malai
bunga, ada lagi prasasti yang menyebutkan Sang Mulawarman menyedekahkan 20.000
ekor sapi kepada brahmana yag seperti api. Prasasti yang terakhir berbunyi raja
Mulawarman yang tersohor telah mengalahkan raja-raja di medan perang.
Sehingga
dengan adanya prasasti tersebut, dapat dijelaskan bagaimana kerajaan Kutai pada
masa raja Mulawarman dan dapat di ketahui fungsi dan
tujuan didirikannya prasasti Yupa
adalah sebagai sumber sejarah bahwa kerajaan Kutai pernah ada di Nusantara.
Daftar
Rujukan